Sunday, May 12, 2019

Puisi Karya Taufik Ismail

Edit Posted by with No comments
Puisi 1 : Kembalikan Indonesia Padaku
(Taufiq Ismail) Paris, 1971

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam
dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam
lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,
sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang
sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya,
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,
Kembalikan Indonesia padaku

Puisi 2 : Mencari Sebuah Mesjid
(Taufiq Ismail) Jeddah, 30 Januari 1988

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana

Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata :

Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan¡

dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran.

Puisi 3 : Seorang Tukang Rambutan Pada Istrinya
(Taufik Ismail) 1966

Tadi siang ada yang mati,
Dan yang mengantar banyak sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun harganya
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula
Mereka kehausan datam panas bukan main
Terbakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan!” Hidup tukang rambutani
Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
Hidup pak rambutan sorak mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Terima kasih, pak, terima kasih!
Bapak setuju karni, bukan?
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
Doakan perjuangan kami, pak,
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita.

Puisi 4 : Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
(Taufik Ismail) 1998

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs 0‡7lys¨¦es dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs 0‡7lys¨¦es dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

Puisi 5 : Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini
(Taufik Ismail) 1966

Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
Duli Tuanku ?¡

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.

Puisi 6 : Surat Ini Adalah Sebuah Sajak Terbuka
(Taufik Ismail) 1965

Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Ditulis pada sebuah sore yang biasa. Oleh
Seorang warganegara biasa
Dari republik ini

Surat ini ditujukan kepada
Penguasa-penguasa negeri ini. Mungkin dia
Bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.
Barangkali dia Ketua MPRS
Taruhlah dia anggota DPR
Atau pemilik sebuah perusahaan politik
(bernama partai)
Mungkin dia Mayor, Camat atau Jaksa
Atau Menteri. Apa sajalah namanya
Malahan mungkin dia saudara sendiri

Jika ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah murahnya? Agaknya
Setiap bayi dilahirkan di Indonesia
Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya
Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama
Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya
Di kamar bersalin
Dan seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin
Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini
Ketika itu tak seorangpun tahu

Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian
Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri
Dengan pelor yang dibayar dari hasil bumi
Serta pajak kita semua
Di jalan raya.di depan kampus atau di mana saja
Dan dia tergolek di sana jauh dari ibu, yang
Melahirkannya. Jauh dari ayahnya
Yang juga mungkin sudah tiada
Bayi itu pecahlah dadanya. Mungkin tembus keningnya
Darah telah mengantarkannya ke dunia
Darah kasih sayang
Darah lalu melepasnya dari dunia
Darah kebencian

Yang ingin saya tanyakan adalah
Tentang harga sebuah nyawa di negara kita
Begitu benarkah gampangnya?
Apakah mesti pembunuhan itu penyelesaian
Begitu benarkah murahnya? Mungkin sebuah
Nama lebih penting
Disiplin tegang dan kering
Mungkin pengabdian kepada negara asing
Lebih penting
Mungkin

Surat ini adalah sebuah sajak terbuka
Maafkan para studen sastra. Saya telah

Menggunakan bahasa terlalu biasa
Untuk puisi ini. Kalaulah ini bisa disebut puisi
Maalkan saya menggunakan bahasa terlalu biasa
Karena pembunuhan-pembunuhan di negeri inipun
Nampaknya juga sudah mulai terlalu biasa
Kita tak bisa membiarkannya lebih lama)

Kemudian kita dipenuhi pertanyaan
Benarkah nyawa begitu murah harganya?
Untuk suatu penyelesaian
Benarkah harga-diri manusia kita
Benarkah kemanusiaan kita
Begitu murah untuk umpan sebuah pidato
Sebuah ambisi
Sebuah ideologi
Sebuah coretan sejarah
Benarkah?

Puisi 7 : 06:30
(Taufik Ismail) 1965

Di pusat Harmoni
Pada papan adpertensi
(Arloji Castell)
Tertulis begini : Dunia Kini
Membutuhkan Waktu Yang Tepat¡

Di belakangnya langit pagi
Tembok sungai dan kawat berduri
Pengawalan berjaga. Di istana

Arloji Castell
Berkata pada setiap yang lewat
Dunia Kini
Membutuhkan Waktu Yang Tepat¡.

Puisi 8 : Benteng
(Taufik Ismail) 1966

Sesudah siang panas yang meletihkan
Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas
Dan kita kembali ke karnpus ini berlindung
Bersandar dan berbaring, ada yang merenung

Di lantai bungkus nasi bertebaran
Dari para dermawan tidak dikenal
Kulit duku dan pecahan kulit rambutan
Lewatlah di samping Kontingen Bandung
Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana
Semuanya kumal, semuanya tak bicara
Tapi kita tldak akan terpatahkan
Oleh seribu senjata dari seribu tiran

Tak sempat lagi kita pikirkan
Keperluan-keperluan kecil seharian
Studi, kamar-tumpangan dan percintaan
Kita tak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam
Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam.

Puisi 9 : Pengkhianatan Itu Terjadi Pada Tanggal
(Taufik Ismail) 1966

Pengkhianatan itu telah terjadi
Pengkhlanatan itu terjadi pada tanggal 9 Maret
Ada manager-manager politik
Ada despot yang lalim
Ada ruang sidang dalam istana
Ada hulubalang
Serta senjata-senjata

Senjata imajiner telah dibidikkan ke kepala mereka tapi la la la
di sana tak ada kepala
tapi hu hu hu
tak ada kepala di atas bahu
Adalah tempolong ludah
Sipoa kantor dagang
Keranjang sampah
Melayang layang

Ada pernyataan otomatik
Ada penjara dan maut imajiner
Generasi yang kocak
Usahawan-usahawan politik yang kocak¡­
Ruang sidang dalam istana
La la la
tempolong ludah tak berkepala
Hu hu hu
keranjang sampah di atas bahu
Angin menerbangkan kertas-kertas statemen Terbang
Melayang layang.

Puisi 10 : Malam Sabtu
(Taufik Ismail) 1966

Berjagalah terus
Segala kemungkinan bisa terjadi
Malam ini

Maukah kita dikutuk anak-cucu
Menjelang akhir abad ini
Karena kita kini berserah diri?
Tidak. Tidak bisa

Tujuh korban telah jatuh. Dibunuh
Ada pula mayat adik-adik kita yang dicuri
Dipaksa untuk tidak dimakamkan semestinya
Apakah kita hanya akan bernafas panjang Dan seperti biasa: sabar mengurut dada?
Tidak. Tidak bisa

Dengarkan. Dengarkanlah di luar itu
Suara doa berjuta-juta
Rakyat yang resah dan menanti
Mereka telah menanti lama sekali
Menderita dalam nyeri
Mereka sedang berdoa malam ini
Dengar. Dengarlah hati-hati.

Puisi 11 : Rendez - C Vous
(Taufik Ismail) 1966

Sejarah telah singgah
Ke kemah kami
Ia menegur sangat ramah
Dan mengajak kami pergi

Saya sudah mengetuk-ngetuk
Pintu yang lain,¡
Katanya
Tapi amat heran
Mereka berkali-kali menolakku
Di ambang pintu.¡

Klni kami beratus-ribu
Mengiringkan langkah Sejarah
Dalam langkah yang seru
Dan semakin cepat
Semakin dahsyat
Menderu-deru
Dalam angin berputar
Badai peluru
Topan bukit batu!


Puisi 12 : Bendera Laskar
(Taufik Ismail) 1966

Kali pertama, di halaman kampus, pagi itu
Telah berkibar bendera laskar
Berkibar putih bagai mega
Dengan garis-garis yang merah
Karena telah dibayar dengan darah

Dia telah mendengar teriakan kita
Sepanjang jalan-jalan raya
Di atas truk tanpa tenda
Di atas jip, di depan pawai-pawai semua
Dia selalu mendahului kita
Dalam setiap gerakan
Kepadanya berbagi nestapa kita
Duka setengah tiang
Duka sejarah rnanusia
Yang telah lama dihinakan
Dan dimelaratkan

Di depan markas, berkibar bendera laskar
Kami semua melambaimu
Hai kawan dan lambang kami yang setia
Lambailah sejarah dari atas sana
Buat kami satu laskar
Buat generasi yang kukuh dan kekar.

Puisi 13 : Dengan Puisi, Aku
(Taufik Ismail) 1966

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

Puisi 14 : La Strada, Atau Jalan Terpanggang Ini
(Taufik Ismail) 1966

Kini anak-anak itu telah berpawai pula
Dipanggang panas matahari ibukota
Setiap lewat depan kampus berpagar senjata
Mereka berteriak dengan suara tinggi
Hidup kakak-kakak kami!¡

Mereka telah direlakan ibu bapa
Warganegara biasa negeri ini
Yang melepas dengan doa
Setiap pagi

Kaki-kaki kecil yang tak kenal lelah
Kini telah melangkahkan sejarah.

Puisi 15 : Silhuet
(Taufik Ismail) 1965

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang lelah
Angin jalanan yang panjang
Tak ada rumah. KIta tak berumah
Kita hanya bayang-bayang

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang letih
Di atas jasad yang pedih
Kita lapar. Kita amat lapar
Bayang-bayang yang lapar

Gerimis telah menangis
Di atas bumi yang sepi
Sehabis pawai genderang
Angin jalanan yang panjang
Menyusup-nyusup
Menusuk-nusuk
Bayang-bayang berjuta
Berjuta bayang-bayang

Di bawah bayangan pilar
Di bawah bayangan emas
Berjuta bayang-bayang
Menangisi gerimis
Menangisi gunung api
Kabut yang ungu
Membelai perlahan
Hutan-hutan
Di selatan.

Puisi 16 : Bukit Biru, Bukit Kelu
(Taufik Ismail) 1965

Adalah hujan dalam kabut yang ungu
Turun sepanjang gunung dan bukit biru
Ketika kota cahay dan di mana bertemu
Awan putih yang menghinggapi cemaraku

Adalah kemarau dalam sengangar berdebu
Turun sepanjang gunung dan bukit kelu
Ketika kota tak bicara dan terpaku
Gunung api dan hama di ladang-ladangku

Lereng-lereng senja
Pernah menyinar merah kesumba
Padang hilalang dan bukit membatu
Tanah airku

Puisi 17 : Persetujuan
(Taufik Ismail) 1966

Momentum telah dicapai. Kita
Dalam estafet amat panjang
Menyebar benih ini di bumi
Telah sama berteguh hati

Adikku Kappi, engkau sangat muda
Mari kita berpacu dengan sejarah
Dan kini engkau di muka

Puisi 18 : Bagaimana Kalau
(Taufik Ismail) 1966

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,
salju turun di Gunung Sahari,
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia
dibayar dengan pementasan Rendra,
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,
dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di
kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki
pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan
margasatwa Afrika,
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil
mempertimbangkan protes itu,
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita
pelihara ternak sebagai pengganti
Bagaimana kalau sampai waktunya
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

Puisi 19 : Dari Catatan Seorang Demonstran
(Taufik Ismail) Yayasan Ananda, Jakarta, 1993

Inilah peperangan
Tanpa jenderal, tanpa senapan
Pada hari-hari yang mendung
Bahkan tanpa harapan

Di sinilah keberanian diuji
Kebenaran dicoba dihancurkn
Pada hari-hari berkabung
Di depan menghadang ribuan lawan

Puisi 20 : Refleksi Seorang Pejuang Tua
(Taufik Ismail) 1966

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan
Setelah mereka menyimak deru sejarah
Dalam regu perkasa mulallah melangkah
Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dari kalbu yang murni
Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya
Kecuali dua puluh tahun yang lalu

Mahasiswa telah meninggalkan ruang-kuliahnya
Pelajar muda berlarian ke jalan-jalan raya
Mereka kembali menyeru-nyeru
Nama kau, Kemerdekaan
Seperti dua puluh tahun yang lalu

Spiral sejarah telah mengantarkan kita
Pada titik ini
Tak ada seorang pun tiran
Sanggup di tengah jalan mengangkat tangan
Danberseru: Berhenti!

Tidak ada. Dan kalau pun ada
Tidak bisa

Karena perjuangan pada hari-hari ini
Adalah perjuangan dimulai dari sunyi


Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya Kecuali duapuluh tahun yang lalu.

Puisi Karya Chairil Anwar

Edit Posted by with No comments

Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar

Puisi Chairil Anwar ‘Aku’

AKU
Kalau sampai waktuku
Aku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Puisi Chairil Anwar ‘Aku Berkaca’

AKU BERKACA
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Ku dengar seru menderu
Dalam hatiku
Apa hanya angin lalu?
Lagi lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah..!!!
Segala menebal, segala mengental
Segala tak ku kenal..!!!
Selamat tinggal…!!

Puisi Chairil Anwar ‘Diponegoro’

DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

Puisi Chairil Anwar ‘Krawang-Bekasi’

KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
Tidak bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan ati 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan,
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenang lah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenang lah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Puisi Chairil Anwar ‘Kepada Kawan’

KEPADA KAWAN
Sebelum ajal mendekat dan menghianat
Mencengkam dari belakang ketika kita tidak melihat
Selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa
Belum bertugas kecewa dan gentar belum ada
Tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam
Layar merah berkibar hilang dalam kelam
Kawan, mari kita putuskan kini di sini
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju
Jangan tembatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat
Tidak minta ampun atas segala dosa
Tidak memberi pamit siapa saja
Jadi
Mari kita putuskan sekali lagi
Ajal yang menarik kita, kan merasa angkasa sepi
Sekali lagi kawan, sebaris lagi
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu..!!

Puisi Chairil Anwar ‘Cerita Buat Dien Tamaela’

CERITA BUAT DIEN TAMAELA
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa, pohon pala,
Badan perawan jadi hidup sampai pagi tiba
Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Puisi Chairil Anwar ‘Persetujuan Dengan Bung Karno’

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo! Bung Karno kasih tangan, mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicara mu
Dipanggang di atas api mu
Digarami lautmu dari mulai tanggal 17 Agusutus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api, Aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zat mu, di zat ku kapal-kapakl kita berlayar
Di urat mu, di urat ku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

Puisi Chairil Anwar ‘Sebuah Kamar’

SEBUAH KAMAR
Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia
Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu
Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu
Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu
Bapak ku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu
Sekeliling dunia bunuh diri
Aku minta adik lagi pada Ibu dan Bapak ku
Karena mereka berada di luar hitungan
Kamar begini 3 x 4 terlalu sempit buat meniup nyawa

Puisi Chairil Anwar ‘Sajak Putih’

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi
Malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita mati datang tidak membelah

Puisi Chairil Anwar ‘Rumahku’

RUMAHKU
Rumah ku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Ku lari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah ku dirikan ketika senja kala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumah ku dari unggun timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi
Tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
Puisi Chairil Anwar ‘Doa’
DOA
Kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh


Contoh cerpen this is my love story

Edit Posted by with No comments

This is My Love Story

Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 11 October 2017
Seperti biasanya aku selalu bangun, menyiapkan sarapan dan berangkat kuliah. Aku kuliah di KAIST salah satu universitas terkenal di Korea Selatan. Selain kuliah, aku juga bekerja di sebuah café milik tanteku yang berada dekat dengan kampusku. Aku merantau dari Indonesia untuk melanjuti pendidikanku di Korea. Aku tinggal di sebuah apartemen yang tidak jauh dari kampusku.
Sesampai di kampus, tiba-tiba seseorang memanggilku.
“Cha Si Ah!” Panggil Seorang wanita di belakangku. Dia adalah sahabatku Han Hye Ri. Dia seorang gadis Blasteran Korea-Indonesia. Ayahnya asli korea dan ibunya asli Indonesia. Tetapi mereka sudah tinggal di korea sejak 7 tahun yang lalu.
“Nae, Waeyo?” Jawabku Singkat.
“Kau tahu bulan depan kita akan mengikuti ujian semester 4?” Jelasnya pada ku.
“Iya, aku sudah tahu” Jawabku santai.
Aku dan Hye Ri sering berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.
Saat ketika aku dan Hye Ri sedang asyik mengobrol, dengan tidak sengaja aku menabrak seorang Namja (anak Laki-laki).
“Hei, apa kau tidak melihatku?” Tanyanya marah.
“Mianhae, aku minta maaf, aku tidak sengaja menabrakmu” jelasku singkat sambil menundukkan kepalaku.
“Di mana matamu? Seenaknya saja kau menabrakku!” Jawabnya kesal.
Saat aku mengangkat kepalaku, ternyata dia adalah kakak kelasku. Dia adalah Kim Joon Myun atau yang sering dipanggil Suho. Dia namja yang cool, dan cuek, tapi entah mengapa banyak wanita yang jatuh cinta dengannya. Mungkin karena Prestasi dan ketampanannya.
“Sekali lagi aku minta maaf, aku kan sudah bilang padamu aku tidak sengaja menabrakmu, ada apa denganmu? Ini hanyalah masalah kecil” jawabku kesal.
“Kau ini sengaja ya mau buat aku terluka? Mengapa kau tidak sopan denganku? Aku kan kakak kelasmu!” jelasnya pada ku.
“Emangnya ada gunanya jika aku melukaimu? Aku memang tidak sengaja menabrakmu, dasar cowok sensitif” Kataku penuh emosi.
“sudah lah, yuk kita pergi saja, lagi pula dia kan sudah bilang dia tidak sengaja menabrakmu”, Jelas Chanyeol.
Dia adalah namja yang sangat berbeda dengan Suho, Park Chanyeol adalah orang yang sangat baik, ramah, pintar, dan juga perhatian.
“Tapi dia tetap harus diberi pelajaran, dia tidak sopan denganku.” Balas Suho tak mau kalah.
“Sudahlah, masalah kecil gini aja lho perbesarin, ayo! nanti kita terlambat” jawab Chanyeol.
“Urusan kita belum selesai, arraseo?” Balasnya sambil meninggalkanku.
Kemudian mereka pun meninggalkan aku dan Hye Ri. Aku dan Hye ri segera masuk ke kelas.
“Kau Tahu kan? Yang kau Tabrak tadi Suho Oppa?” Tanya Hye Ri
“Nae, aku tahu, emangnya kenapa?” Jawabku tenang.
“Aigoo!! apa kau tahu, Setiap orang yang bermasalah dengan Suho Oppa, pasti masalahnya panjang lebar” Jelas Hye Ri
Dengan santai aku menjawab “Ya sudahlah, apa mau dibuat, terserah dia saja, I don’t Care! Yang penting aku sudah minta maaf padanya”.
“Aissh, Jinjja! Terserahlah, tapi aku tetap di pihakmu” jawab Hye Ri sambil tersenyum.
Saat sepulang dari kampus, aku dan Hye Ri langsung pergi ke Café tempat kami bekerja. Ketika aku sedang termenung di meja utama, tiba tiba seseorang memanggil.
“Pelayan!” panggil seorang pria yang duduk di dekat jendela.
“Nae, Sebentar” jawabku ramah. Aku berjalan menghampirinya.
“Selamat Sore, Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku kepada kedua pria itu.
“Aku mau pesan ice cappuccino satu” jawab salah seorang pria itu.
“Kau bukannya tadi yang menabrakku di kampus?” tanyanya kepada Cha Si Ah.
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu. Aku sudah menebak sepertinya aku mengenal kedua pria ini. Dan ternyata tebakanku tepat, mereka adalah Suho dan Chanyeol Sunbae.
“Hmmm, iya, aku kan sudah bilang aku tidak sengaja menabrakmu, sekali lagi aku minta maaf” jawabku ramah.
“Kenapa kau bisa di sini? Kau bekerja di sini? Apa dia pelayan baru di sini? Aku tidak nyaman dengan pelayan ini. Di mana manager kalian? Eodie isseoyo? Tolong pecat dia! Ini adalah café favoriteku!” Jelasnya penuh emosi.
“Suho, kau harus tenang terlebih dahulu, ini tempat umum, kau bisa mengganggu pelanggan yang lain. Lagi pula kau tidak bisa seenaknya memecatnya” Jelas Chanyeol mencoba menenangkan suasana café.
“Jadi kau membelanya ketimbang aku sahabatmu?”
“Aniyeo! Bukan begitu, tenang kan dulu dirimu!” Ketus Chanyeol
“Maaf. Ini manager kami” kata salah satu pelayan yang lain.
“Maaf apa anda mencari saya?” Kata seorang wanita itu dengan ramah.
“Iya, saya mencari anda, anda manager café ini kan?”
“Benar, saya managernya sekaligus pemilik café ini. Maaf sebelumnya, sebenarnya ini ada apa ya?”
“Okay, bagus kalau begitu, saya tidak nyaman dengan gadis ini, saya mohon, tolong pecat dia sekarang juga!”
“Kenapa saya harus memecatnya? Apa salahnya? Saya sudah tahu semuanya, saya rasa saya tidak perlu memcat keponakan saya sendiri, karena dia memang tidak bersalah” Jelas Wanita itu.
“Keponakan anda? Asal anda tahu, dia tidak sopan dengan saya!”
Dengan kesal Suho langsung keluar meninggalkan café dan Chanyeol.
“Saya minta maaf atas kesalah pahaman ini” kata chanyeol ramah.
“Nae, gwaencana” jawabku ramah.
“Gomabseumnida” balasanya sopan.
Ketika aku menuju pulang, aku sempat terbayangkan betapa buruknya yang terjadi padaku hari ini. Ketika di tengah perjalanan, aku melihat ada sebuah kecelakaan di hadapanku. Dengan penuh rasa penasaran aku menghampiri kejadian itu. Lalu aku melihat seorang pria yang tidak sadarkan diri. Aku sangat terkejut saat melihat pria itu, ternyata ia adalah Suho Sunbae. Dengan rasa khawatir dan takut, aku berusaha menghubungi Rumah Sakit, Park Chanyeol dan juga Hye Ri. Tak lama kemudian ambulan telah tiba, dengan khawatir aku juga ikut masuk menemaninya di dalam Ambulan. Entah kenapa aku merasa sangat sakit melihatnya seperti ini, padahal aku dan Suho sunbae tidak saling kenal satu sama lain.
Ketika aku sedang duduk di ruang tunggu, tanpa aku sadari air mata membasahi pipiku. Tak lama kemudian, Park Chanyeoldan Hye Ri menghampiriku.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Chanyeol Khawatir
“Menurut saksi yang melihat kejadian itu, Suho Sunbae ditabrak oleh mobil yang arah berlawanan dengannya” Jawab ku sambil tersedu-sedu.
Tak lama kemudian keluarlah dokter, dan menjelaskan bahwa suho tidak apa-apa tetapi dia harus banyak beristirahat karena ada sedikit cedera di bagian tangan dan kakinya. Dan dia besok sudah boleh pulang. Kemudian aku, Hye Ri dan Chanyeol Sunbae, masuk ke ruangan dimana Suho sunbae dirawat.
“Syukurlah kalau kau tidak apa-apa, jujur aku sangat khawatir” Jelas Chanyeol. Suho hanya tertawa kecil.
“Kau tahu, yang menyelamatkan nyawamu tadi itu ialah gadis yang menabrakmu di kampus dan kau tahu dia sangat khawatir dengan keadaanmu” Jelas Chanyeol.
“Jinjja? Kau jangan bercanda. Tapi jika itu benar, aku sangat berterimakasih dan jujur aku tidak apa-apa, jadi tidak usah khawatir” jawabnya ramah sambil tersenyum.
Dalam hati aku berkata, “Sikap dia kali ini sangat berbeda dengan sebelum dia kecelakaan, apa dia geger otak? Ah, mana mungkin, dokter bilang dia baik baik saja. Hmm, senyumnya manis juga, aku rasa aku menyukainya. Aisshhh, pikirin apa sih loh Cha Si Ah, jangan menghayal deh loh, jangan sampe!”
“Hmm iya, tapi apa kau yakin kau tidak apa-apa? Apa tidak ada yang sakit? Tanyaku ramah.
“Tidak, aku yakin itu” Jawabnya singkat.
Keesokan harinya, aku bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjemput Suho sunbae, tetapi saat dalam perjalanan, tiba–tiba Hye Ri mengirim pesan sebuah alamat dan ia menyuruhku untuk menemuinya disana. Kemudian aku langsung menuju kesana, aku terkejut saat aku melihat alamat yang dikirim oleh Hye Ri ialah alamat Restaurant yang sangat mewah di dekat pusat kota Seoul. Kemudian aku mengikuti semua clue dari Hye Ri. Kemudian aku naik ke roof top. Dan aku sangat terkejut ketika melihat Suho yang stand by berdiri di hadapanku dengan seikat bunga mawar dan ada sebuah neon box yang bertuliskan “Sarangheo Cha Si Ah” dan kemudian diputar lagu “Stay With Me” Ost Gobli, yaitu lagu dan sekaligus drama favorite ku. Aku tidak menyangka semua ini terjadi pada ku dengan begitu cepat. Dan aku tidak menyangka, bagaimana dia bisa tahu lagu dan drama favoriteku?. Dan kemudian Ia mulai mengungkapkan perasaannya padaku.
“Cha Si Ah, aku rasa semenjak aku bertengkar denganmu saat di café kemarin, sepertinya aku mulai menyukaimu, dan kau kemarin sudah menyelamatkan nyawaku. Jadi aku pikir kau sebenarnya adalah wanita yang baik. Entah bagaimana aku dengan cepat tertarik dengan pesonamu. Padahal aku sangat begitu jahat padamu. Maaf kan aku, tanpa berpikir panjang aku rasa kau orang yang tepat untukku dan aku memutuskan akan mengungkapkan perasaanku padamu hari ini” Jelasnya penuh keikhlasan.
Dengan rasa kaget yang luar biasa aku menjawab “Aku tidak menyangka kau menyukaiku, dan aku tidak menyangka bahwa kalau kau adalah orang yang sangat baik, ramah bahkan juga romatis. Dan itu semua diluar dugaanku. Aku minta maaf atas penilaianku yang buruk terhadapmu”.
“Hmm Gwancana, jadi gimana? Apa kau mau menjadi kekasihku?” Tanyanya penuh bahagia.
“Nae, tentu” jawabku sambil mengangguk.
“Huaa, ternyata kalian cocok juga ya” Goda Chanyeol
“Iya mereka memang cocok” Sambung Hye Ri.